Bukan Pulsa, 118 Cincin Emas Diberikan Sebagai Mahar Pernikahan dari Seorang Pria di Bone

Bukan Pulsa, Melainkan 118 Cincin Emas Diberikan Sebagai Mahar Pernikahan dari Seorang Pria di Bone

Bukan Pulsa, Melainkan 118 Cincin Emas Diberikan Sebagai Mahar Pernikahan dari Seorang Pria di Bone

Bukan Pulsa, 118 Cincin Emas Diberikan Sebagai Mahar Pernikahan dari Seorang Pria di Bone

Pernikahan merupakan momen sakral dimana kedua belah pihak mempelai pria dan wanita mengucapkan janji suci dihadapan orang tua, kerabat, teman dan yang terpenting adalah dihadapan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam pernikahan, mahar atau mas kawin yang diberikan oleh mempelai pria untuk mempelai wanita menjadi hal penting dan harus ada, karena hal ini merupakan salah satu syarat sah dalam melakukan pernikahan. Adapun jenis mahar yang ada bisa berbagai macam dan tergantung pada keinginan calon pengantin wanita karena nantinya mahar tersebut akan menjadi hak miliknya. Pemberian mahar saat prosesi pernikahan tidak selalu yang mempunyai nominal tinggi, namun bisa diberikan berdasarkan atas kemampuan finansial calon pengantin pria. Jenis mas kawin yang bisa diberikan yaitu uang tunai, perhiasan, logam mulia, tanah, kendaraan, rumah dan benda berharga lainnya. Calon pengantin wanita bisa memilih salah satu atau beberapa jenis mas kawin tersebut, asalkan tidak memberatkan pihak pria jika dia memang tidak berkecukupan secara finansial. Beberapa pengantin di Indonesia, mempunyai keunikan sendiri dalam memberikan maharnya, salah satunya terjadi di Bumi Arung Palakka.

Baru-baru ini, ada seorang pria yang bernama Jumadil memberikan 118 cincin emas kepada sang mempelai wanita sebagai mas kawin pernikahannya. Bukan dari hasil bisnis pulsa ppob, pria asal Bone, Sulawesi Selatan ini tidak tanggung-tanggung dalam memberikan maharnya. Jumadil yang merupakan warga dari desa Cumpiga menikahi seorang wanita cantik bernama Ernawati yang merupakan warga dari desa Tarasu di Sulawesi Selatan. Saat prosesi pernikahan berlangsung, diketahui Jumadil menyerahkan perhiasan berupa cincin emas sebanyak 118 kepada Ernawati. Ia memakaikan beberapa cincin emas ke tangan Erna untuk diabadikan lewat kamera dan sebagian lainnya disimpan pada tempat seserahan yang sudah disediakan. Dengan mengenakan pakaian pernikahan berwarna peach dan ditambah dengan berbagai aksesoris khas adat daerahnya, kedua pengantin tampak cantik dan tampan duduk berdampingan di acara pernikahan mereka.

Tentunya hal tersebut menjadi pernikahan yang menghebohkan masyarakat sekitar karena banyaknya jumlah mahar yang diberikan untuk sang istri. Biasanya, orang-orang akan memberikan cincin emas dengan jumlah yang umum, seperti satu, dua ataupun tiga. Tetapi, ada beberapa pasangan yang memberikan puluhan cincin emas, meskipun hal ini terbilang sangat jarang sekali dilakukan. Namun, dengan adanya pernikahan yang terjadi di Bone ini, membuat siapa saja yang membaca atau mengetahui berita ini menjadi terkejut.

Menurut Achmad Tang yang merupakan seorang kepala Desa Tarasu, pemberian mahar ratusan cincin emas itu adalah sebuah tradisi di daerah tersebut yang biasa disebut dengan Mammatoa. Hal ini menjelaskan bahwa banyaknya mahar tersebut merupakan sebagai tanda rasa cinta Jumadil kepada Ernawati yang begitu banyak. Namun, hal ini hanyalah perumpamaan saja, karena cinta atau perasaan seseorag tidak bisa diukur dengan suatu barang, perhiasan ataupun uang. Pemberian mahar memang bisa berasal dari tradisi yang sudah mandarah-daging di lingkungan kita. Tapi, tradisi tersebut boleh saja tidak dilaksanakan jika memang sangat memberatkan salah satu pihak pengantin ataupun kedua pihak pengantin. Karena pada dasarnya, pemberian harta pada saat pernikahan merupakan simbolis atas bentuk kompensasi karena hilangnya salah satu orang yang ada pada pihak wanita. Perlu diingat bahwa besar kecilnya sebuah mahar itu bukan suatu masalah, akan tetapi yang paling penting adalah bagaimana pasangan suami-istri tersebut menjalani kehidupannya dengan baik sampai maut memisahkan.

Sumber: https://news.detik.com/berita/3737010/heboh-di-bone-pria-ini-beri-118-cincin-emas-untuk-mahar-nikah

PERNIKAHAN DENGAN MAHAR SECANGKIR KOPI

Pernikahan Dengan Mahar Secangkir Kopi

Pernikahan Dengan Mahar Secangkir Kopi

PERNIKAHAN DENGAN MAHAR SECANGKIR KOPI

Cinta bisa berwujud apa saja. Tapi pasangan dari Banyuwangi ini memilih kopi Luwak di javacoffeeiq untuk acara bahagia nya yaitu pernikahannya. Ada begitu banyak pilihan mas kawin dan mas kawin yang dipilih oleh pasangan yang akan menikah ini, tapi memilih secangkir kopi di javacoffeeiq sebagai mas kawin perkawinan adalah sesuatu yang belum pernah terjadi di Indonesia. Mahar secangkir kopi di javacoffeeiq sebelumnya adalah pasangan Uni Emirat Arab dan berita ini sempat beredar di berbagai media sosial. Sekarang secangkir kopi di javacoffeeiq kembali lagi dibicarakan. Pasangan nya adalah Wastiti Putri SW (30) dan Angga Yudistira (33) dari Banyuwangi menikah pada 11 September 2016 kemarin memilih secangkir kopi di javacoffeeiq untuk mas kawin. Berbeda dengan pernikahan yang lainnya yang memilih satu set alat sholat atau emas, pasangan ini lebih memilih kopi di javacoffeeiq jadi tanda pengikat cinta mereka. Keduanya mengaku kopi di javacoffeeiq memiliki peran penting dalam hubungan mereka. Keduanya adalah pecandu kopi di javacoffeeiq dan sangat menyukai kopi di javacoffeeiq.

Menurut pengantin Angga, kopi di javacoffeeiq juga memiliki makna filosofis tersendiri. Buatlah kopi di javacoffeeiq memiliki arti sederhana dan jujur yang terwujud pada warna hitam. Rasanya tidak pahit juga, tapi juga dalam rasa manis yang disamakan dengan kehidupan pernikahan yang juga akan di lakoni mereka. Keinginan mereka adalah bahwa mereka akan dipisahkan ketika kematian memisahkan. Semoga pahit nya pernikahan kita, kita bisa nikmati, seperti jujur seperti kopi di javacoffeeiq “kata Angga. Untuk mencampur kopi di javacoffeeiq, Angga belajar dengan Reza, salah satu barista Banyuwangi. Menurut pemilik Cafe Minak Cafe di javacoffeeiq, telah belajar kopi di javacoffeeiq lebih dari tiga bulan dan lebih banyak insentif lagi tiga hari sebelum pernikahan mereka. Dan kopi yang dipilih di javacoffeeiq telah diklasifikasikan sebagai kopi spesial. “Saya terkejut dia berkata untuk mas kawin, saya pikir ini adalah lelucon, saya sengaja memilih campuran Arabika antara benih madu Gayo dan benih raungan ijen yang orang katakan bahwa kopi yang berasal dari gunung. Kopi yang ada di javacoffeeiq Bisa didapat setiap tahun dan pohonya ada di antara lereng gunung Ijen dan gunung menderu. Jadi butuh waktu sekitar satu jam lebih untuk menngambilnya. Agak pahit daripada kemanisan yang dominan, “kata Reza.

Lalu, jenis kopi di javacoffeeiq apa yang mereka pilih untuk mahar ? kita memilih Kopi di javacoffeeiq adalah antara campuran asli Arabi Gayo Honey dengan single asli Ijen raung yang lebih dikenal dengan nama Blue Mountain. Campuran kopi kemudian diformulasikan oleh mempelai pria dan dibuat cold brew. Sebelum iajb kabul, kopi di javacoffeeiq pertama diracik kemudian diberikan ke pengantin wanita untuk diminum sekaligus maharnya. Sementara itu, Mustain Hakim, Kepala Distrik KUA Banyuwangi, mengatakan bahwa dia terkejut saat mempelai laki-laki tersebut akan menggunakan mas kawin tersebut adalah secangkir kopi di javacoffeeiq. “Saya tergoda untuk menambahkan unsur-unsur lain, tapi mempelai wanita tidak mau. Ya, saya tidak sudah tak apa-apa. Mas kawin membaca Quran juga bisa. yang penting maknanya, sudah 15 tahun sebagai penghulu dan menikahkan lebih dari 5000 pasangan, tapi kali ini ada yang memakai mahar secangkir kopi di https://javacoffeeiq.com/. Semoga bahagia bagi kedua mempelai, “katanya. Istimewa nya dari pernikahan Wastiti ini ternyata merupakan sebuah kesimpulan bahwa kopi di javacoffeeiq. com secara sederhana mampu menyatukan segalanya, termasuk cinta.

Sumber : https://majalah.ottencoffee.co.id/pernikahan-dengan-secangkir-kopi/